KH Said bin KH.Armia, Tegal
Biografi Ulama Nusantara
Pon-pes
Attauhidiyyah yang Lokasinya terletak di Desa giren dan satu lagi di
cikura Bojong lokasinya tak jauh dari obyek wisata Guci propinsi Jawa
Tengah.Pesantren tersebut kini di asuh oleh dua bersaudara
KH.ahmad bin
kh said bin Kh armia
KH Hasani bin Kh said bin Kh armia
Ayah beliau bernama
KH.Said bin Kh Armia adalah seorang ulama dan waliyulloh yang wafat pada
tanggal 20 rajab 1395 atau sekitar tahun 1974 dan dimaqomkan tak jauh
dari pondok pesantren di giren Talang. Ciri khas yang membedakan dari
pesantren ini adalah Pendalaman dalam bidang ilmu tauhid diantaranya
karya Sayyid Abi abdillah Muhammad bin yusuf Sanusi al khasani atau
lebih dikenal dengan Iman Sanusi dan Kitab kitab Tauhid lainnya seperti
Nuruzh zholam, kipayatul awam dan Kitab Ta’lim Mumtadiin karya KH.Said
bin Armia.
Bila bulan puasa tiba, santri dalam atau santri pondok banyak yang
pulang ke kampung halamannya sampai satu hingga dua minggu. Mereka
bertemu keluarga dan sanak saudara. Sedangkan kegiatan pondok diisi oleh
santri kalong( Julukan untuk warga luar pesantren atau masyarakat umum
yang mengikuti pengajian ) ,Mereka mendapatkan aneka wejangan dari
santri senior ponpes Attauhidiyyah Selain itu juga mereka langsung
mendapat gemblengan dari Pimpinan dan Pengasuh Ponpes KH Ahmad bin KH
Said bin KH Armia. Gemblengan yang diberikan antara lain soal gambaran
umum ilmu ketauhidan, tafsir kitab kuning dan wejangan lain yang
bersifat bimbingan moral dan agama. Dengan tujuan akhir, santri mendapat
bekal dalam mengarungi hidup di luar ponpes. Kegiatan lain yang cukup
mendapat perhatian santri adalah membaca Kitab Suci Al-Qur’an setelah
salat tarawih. Atau usai menjalankan salat-salat fardhlu (salat wajib)
lainnya. Mereka yang dapat selesai membaca kitab suci itu dalam waktu
yang sudah ditentukan dan benar, maka disebut telah selesai khatam.
Nah tiap selesai khatam itulah, santri seperti mendapat sesuatu yang
lebih. Mereka kemudian mendapat hidangan nasi kebuli dari pimpinan
ponpes. Satu nasi kebuli yang ditaruh di nampan, dinikmati untuk empat
hingga lima orang. Mereka menyantap beramai-ramai.
Lantas apa yang membuat mereka seperti ketagihan menikmati hidangan nasi
kebuli? Tentu karena resep masakan yang khas, yang sengaja dibuat dan
disajikan oleh santri senir ponpes tersebut.
Menurut santri senior , hidangan nasi kebuli dibuat dari campuran
santan, susu, dan daging kambing. Orang melihat sekilas nasi itu seperti
nasi goreng, namun punya perbedaan rasa yang khas dan sulit disamakan.
“Ya, karena kami memasak dengan cita rasa yang khas, siapa pun yang
mencicipi pasti langsung ketagihan. Hanya saja, yang kena penyakit darah
tinggi jangan makan daging kambingnya. Kalau sayurnya sih ndak papa,”
tutur dia.
tiap malam ribuan orang menjadi santri kalong di ponpes itu. Mereka
berbuka puasa bersama dan mendengarkan wejangan keagamaan dari KH Ahmad
bin KH Said bin KH Armia. Selain itu, digembleng pula oleh KH Hasani
yang merupakan orang kedua atau pengasuh dua ponpes tersebut.
Perjalanan saya kali ini Ke Tegal ke pon-pes Attauhidiyyah secara
kebetulan bersamaan dengan wafatnya anak seorang ulama karismatik dan
menjadi panutan di kota Tegal Almarhum Kh.Miftah bernama KH.Hadun Bin
KH.Miftah warga sekitar biasa memanggil dengan sebutan Gus Hadun
lokasinya tak jauh dari Pon-pes attauhidiyah, Gus Hadun wafat pada hari
selasa tanggal 16 oktober 2007 dan dimakamkan di samping maqom ayahnya
Kh.Miftah .Ribuan warga berdatangan untuk turut menguburkan Gus Hadun
termasuk Para ulama dan Habaib setempat , sempat pula saya menyalami
KH.Hasani Bin KH.Said disana namun sayang saya tidak sempat bertemu
dengan KH.Ahmad Bin KH.Said yang menurut santri beliau ada di luar kota.
Tepat Pukul 10.00 jenazah Gus Hadun di kuburkan diiringi dengan gema
tahlil dan tahmid dari para jamaah …semoga Alloh menempatkannya pada
derajat yang mulai bersama para kekasih Allloh aminn.
Selepas mengikuti prosesi penguburan saya pergi berziarah ke Maqom
Kh.Said bin Kh armia yang letaknya tak jauh dari sana,dan setelah itu
berziarah ke maqom Habib Muhammad Bin Thohir Al hadad yang letaknya
kurang lebih 10 km dari Pon-pes Attauhidiyah Giren Talang .
“Ya Alloh
Tuhan kami Berilah kami kemamfaatan dengan berkah mereka”…..”tunjukan
kami akan kebaikan dengan keagungan mereka”…”matikan kami didalam
thoriqoh mereka”….”serta selamat dari segala fitnah”….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar